Sein Qudsi menegaskan kepada para pempengaruh bahwa pendekatan cepat melalui platform seperti TikTok tidak serta-merta menggantikan kebutuhan mendasar dalam seni lakonan. Fokus pada ilmu lakonan, kata dia, merupakan langkah krusial bagi siapa saja yang bercita-cita menjadi pelakon, tidak sekadar mengandalkan jumlah pengikut atau popularitas maya.

Pernyataan itu disampaikan ketika Sein, anggota kumpulan Ruffedge yang juga aktif sebagai pengarah, ditemui saat sidang media konsert Soul City An R&B Night di IDEAS Kuala Lumpur baru-baru ini. Selain membahas persiapan konser, ia berbagi pandangan soal persiapan dan etika bekerja di set penggambaran.
Minat dan pembelajaran sebagai landasan
Sein menggarisbawahi bahwa siapa pun, tanpa memandang latar belakang profesional, dapat mempelajari lakonan selama ada kesungguhan. Ia menekankan pentingnya minat yang disertai usaha menimba ilmu.
“Bagi saya, tak kisah siapa pun awak, sama ada influencer, jurutera atau arkitek, lakonan itu adalah satu bentuk seni. “Pertama sekali kena ada minat. Lepas itu kena cari ilmu lakonan,” katanya.
Selain minat, pengalaman praktis di lapangan juga dianggapnya vital. Bakat bisa mempercepat proses belajar, tetapi tanpa pembekalan pengetahuan dan pengalaman yang cukup, bakat berisiko tidak berkembang maksimal.
“Bakat memang penting sebab orang berbakat ini ajar sikit terus jadi. “Tapi kalau ada bakat tanpa ilmu dan pengalaman, dia jadi macam tak habis tumbuh. Sayanglah bakat itu,” ujarnya.
Persiapan uji bakat dan peranan pengarah
Sein mengamati munculnya generasi pempengaruh yang menunjukkan kesiapan lebih baik dibanding masa lalu karena akses informasi yang mudah. Baginya, peserta uji bakat yang datang dengan persiapan pengetahuan lakonan akan menonjol dan memudahkan penilaian pengarah.
“Sekarang ini budak-budak baharu ramai yang bijak. Ilmu semua di hujung jari. “Kalau mereka ada ilmu, mereka akan lebih menonjol masa sesi uji bakat. “Sebagai pengarah, kita boleh nampak siapa yang datang dengan persiapan,” katanya.
Pernyataan ini menegaskan ekspektasi profesional di dunia perfileman dan televisi: persiapan yang matang bukan hanya soal teknik, tetapi juga etika kerja dan kesiapan menerima arahan di bawah tekanan produksi.
Set penggambaran bukan ruang latihan
Mengenai praktik belajar langsung di lokasi penggambaran, Sein mengingatkan bahwa setiap produksi memiliki jadwal ketat sehingga waktu untuk mengajari dasar-dasar sangat terbatas. Menurutnya, set adalah ruang kerja, bukan kelas latihan.
“Dekat set, kita dah tak ada masa nak mengajar A, B, C sebab kita kejar masa dan cahaya matahari. “Sesi penggambaran adalah sesi bekerja, bukan sesi pembelajaran,” katanya.
Ia juga membedakan produksi profesional dengan pembuatan sketsa di media sosial: pengalaman dan tuntutan panggung besar berbeda dengan konten short-form yang dibuat di rumah atau studio kecil.
“Tidak boleh samakan. “Ia macam awak main bola dekat padang depan rumah dengan kawan-kawan berbanding bermain di stadium besar. “Dekat depan rumah mungkin rasa hebat, tapi bila masuk pentas utama, tiba-tiba kaki boleh jadi kaku. Takkan sama,” katanya.
Soul City: malam nostalgia R&B
Di luar pembahasan soal lakonan, Sein turut terlibat dalam konser Soul City, An R&B Night yang akan menampilkan nama-nama ikonik. Konser ini dijadwalkan berlangsung pada 10 Juli di Unifi Arena, Bukit Jalil dan menghadirkan Ruffedge, Innuendo, Lah Ahmad serta The Fabulous Cats feat. Datin Alyah.
Menurut penyelenggara, Soul City bertujuan membawa penonton bernostalgia dengan era kegemilangan R&B Malaysia akhir 1990-an hingga awal 2000-an — sebuah periode yang meninggalkan jejak kuat di radio, televisi, dan budaya pop lokal.
Sein menutup perbincangan dengan mengingatkan generasi baru agar memandang serius proses belajar dalam seni lakonan, sehingga ketika kesempatan profesional datang, mereka siap menunjukkan kemampuan terbaiknya di panggung utama maupun layar.
