Indonesiabch.or.id – Menunaikan ibadah haji lebih dari sekadar kewajiban agamawi; ia adalah perjalanan yang membutuhkan persiapan mental, disiplin, dan kejelasan tujuan.
Pelaksanaan ibadah haji bukan sekadar pelengkap rukun Islam, tetapi lebih dari itu. Ia adalah cerminan dari disiplin dan dedikasi yang tinggi terhadap pengelolaan keuangan dan kesiapan mental. Banyak dari generasi terdahulu yang hidup sederhana di pedesaan mampu melangkahkan kaki mereka ke tanah suci. Berkat niat yang bulat dan kemampuan menunda kesenangan untuk tujuan yang lebih besar. Artikel ini akan mengupas strategi dan pembelajaran dari mereka yang telah berhasil membiayai perjalanan spiritual ini.
Disiplin dan Kejelasan Tujuan
Disiplin dalam keuangan dan kejelasan tujuan adalah dua pilar penting bagi seseorang yang bertekad untuk menunaikan ibadah haji. Sebagaimana diutarakan oleh Profesor Dr Mohamad Fazli Sabri, ketahanan diri dalam menunda keinginan dan menaruh prioritas pada kebutuhan adalah esensial. Mindset ini harus diadopsi sejak dini agar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, memungkinkan seseorang untuk menjadikan haji sebagai tujuan utama yang diupayakan dengan keras.
Pendidikan Keuangan Sejak Dini
Dosen Fakultas Ekologi Manusia ini juga menyoroti pentingnya pendidikan keuangan di lingkungan keluarga. Banyak orang tua mengabaikan diskusi ini, padahal melalui teladan dan komunikasi, anak-anak bisa belajar mengelola uang secara bertanggung jawab. Mengajarkan disiplin dalam menyimpan, seperti yang dialami oleh Anis Annisa, mampu membuat perbedaan signifikan dalam mencapai tujuan besar di kemudian hari.
Menyimpan Sedikit, Konsisten
Pengalaman Anis Annisa menunjukkan bahwa tantangan menabung sering kali bukan dari jumlah yang bisa disisihkan, melainkan konsistensi dalam melakukannya. Menyimpan meskipun hanya sedikit, tetapi dilakukan rutin, dapat membentuk kebiasaan baik yang berujung pada pencapaian yang lebih besar. Hal ini, katanya, harus disertai dengan pengorbanan, menunda keperluan sehari-hari yang tak begitu mendesak.
Bukan Sekadar Untuk Usia Tua
Persepsi bahwa haji hanya cocok untuk yang berusia lanjut perlu diubah. Kesadaran ini penting agar generasi muda mengambil langkah awal dan tidak menunda-nunda. Dengan memulai menabung sejak dini, perjalanan haji bisa menjadi kenyataan di usia muda, memungkinkan mereka melakukan perjalanan spiritual dalam keadaan tubuh yang lebih kuat dan berenergi.
Keharusan Memiliki Perencanaan Keuangan
Mashitah Sedik mengungkapkan bahwa pondasi keuangan yang kokoh sangat penting untuk menjaga konsistensi menabung. Pembagian keuangan yang sehat dapat mencakup alokasi untuk kebutuhan, keinginan, dan tabungan dengan porsi yang fleksibel sesuai kondisi keuangan personal. Menghadapi gejolak biaya hidup, menambah penghasilan bisa menjadi opsi untuk menjaga kestabilan keuangan.
Pada akhirnya, menunaikan ibadah haji lebih dari sekadar kewajiban agamawi; ia adalah perjalanan yang membutuhkan persiapan mental, disiplin, dan kejelasan tujuan. Mengatasi halangan biaya hidup masa kini memerlukan adaptasi dan ketahanan finansial. Keresahan banyak orang terletak pada ketergesaan memuaskan gaya hidup instant, namun sejatinya, pencapaian bermakna seperti ini terletak pada kemampuan kita untuk terus berkomitmen pada tujuan jangka panjang. Begitu haji dapat dilihat dalam konteks ini, ia tidak hanya menjadi lebih terjangkau, tetapi juga lebih bermakna dari sisi spiritual dan pribadi.
