Djakarta International Theater kembali menampilkan karya lintas negara di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Festival tahun ini membawa ragam pementasan dan program diskusi yang berlangsung sejak 5 Agustus dan dijadwalkan sampai 8 Agustus 2026.

Salah satu sajian pada pembukaan adalah pementasan berjudul Horizon yang dibawakan oleh seniman Indonesia Yudi Ahmad Tajudin bersama seniman Thailand Sasapin Siriwanij. Pertunjukan itu hadir sebagai bagian dari program festival bertajuk Djakarta International Theater Platform 2026 “(Men)Citra Niskala, Unseen (The) Map”.
Pementasan lintas negara di panggung Teater Jakarta
Pementasan Horizon yang menampilkan kolaborasi Yudi Ahmad Tajudin dan Sasapin Siriwanij menjadi salah satu contoh program yang mempertemukan pembuat seni dari negara berbeda. Kehadiran dua seniman dari Indonesia dan Thailand tersebut menegaskan orientasi festival pada dialog artistik antarbangsa melalui teater.
Ruang pertunjukan di Teater Jakarta dipilih untuk menampilkan karya-karya yang berada pada pertemuan upaya naratif dan eksperimen artistik. Dalam edisi ini, festival mengusung subtitle “(Men)Citra Niskala, Unseen (The) Map” sebagai payung kuratorial yang memuat pementasan-pementasan dengan pendekatan lintas disiplin.
Program: pementasan, diskusi publik, dan eksperimen artistik
Festival yang berlangsung pada 5-8 Agustus 2026 menyediakan sejumlah format kegiatan selain pertunjukan panggung. Di program-program itu terdapat diskusi publik yang bertujuan membuka ruang percakapan mengenai praktik teater konrer. Selain itu, festival juga memfasilitasi eksperimen artistik yang melibatkan seniman dan komunitas sebagai bagian dari upaya menjalin kolaborasi lintas negara dan konteks budaya.
Penyelenggaraan acara-acara seperti diskusi dan eksperimen artistik memberi kesempatan bagi penonton untuk terlibat lebih jauh, tidak semata sebagai pemirsa, tetapi juga sebagai bagian dari proses refleksi terhadap karya. Pendekatan ini menegaskan bahwa festival tidak hanya memajang karya, tetapi juga mengupayakan interaksi dan pertukaran gagasan pelaku seni dan publik.
Peran komunitas dan ruang publik dalam festival
Salah satu fokus utama dalam perhelatan ini adalah menjadikan festival sebagai ruang berkumpulnya seniman, komunitas, dan masyarakat umum. Dengan menempatkan berbagai kegiatan di Teater Jakarta, penyelenggara berharap dapat menarik beragam audiens untuk menyaksikan dan berdialog soal praktik-praktik teater konrer yang dipresentasikan.
Keterlibatan komunitas menjadi bagian penting dari format acara, baik dalam bentuk partisipasi langsung dalam program eksperimen maupun melalui kehadiran pada sesi diskusi publik. Pendekatan ini memperluas jangkauan festival dari sekadar pentas panggung menjadi wacana kolektif yang melibatkan banyak pihak.
Nilai pertukaran budaya dan kolaborasi artistik
Kolaborasi Yudi Ahmad Tajudin dan Sasapin Siriwanij yang tampil dengan Horizon menunjukkan bagaimana pertunjukan teater dapat menjadi medium pertukaran budaya. Kehadiran seniman dari negara yang berbeda memberi warna baru pada cara penyutradaraan, penggunaan bahasa visual, serta interpretasi tematik dalam pementasan.
Secara keseluruhan, Djakarta International Theater Platform 2026 “(Men)Citra Niskala, Unseen (The) Map” menegaskan perannya sebagai ajang yang menyediakan panggung bagi gagasan-gagasan baru, dialog lintas komunitas, dan eksperimen artistik yang melintasi batas negara. Gelaran ini berlangsung hingga 8 Agustus 2026 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta dan menawarkan berbagai program yang mengundang penonton untuk menyaksikan sekaligus terlibat dalam proses penciptaan seni pertunjukan.
